Menu

Dark Mode
Pengesahan SEMA DEMA U Cacat Hukum: Alumni Soroti Kelalaian dan Kecurangan di Atas Aturan yang dibuat Sendiri Infrastruktur Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Metro Selatan Bergerak Sendiri Demokrasi Kampus Dipertanyakan, Aliansi Mahasiswa UIN JUSILA Soroti Masuknya Polisi dalam Forum Pemilihan Transparansi yang Dipertanyakan di Universitas Muhammadiyah Metro: Rangkap Jabatan Dosen dan Perekrutan Pegawai Kampus PKIMB dan Yayasan Amirul Ummah Salurkan 820 Al-Qur’an untuk Santri di Lampung BRI Salurkan Bantuan untuk Warga Kurang Mampu di Lampung Timur Lewat Program TJSL

Nasional

Wasinah: Dari Negeri Sakura Menuju Peristirahatan Terakhir

badge-check


					Bupati Lamtim, Ela Siti Nuryama saat mendampingi keluarga Wasinah. (Ist) Perbesar

Bupati Lamtim, Ela Siti Nuryama saat mendampingi keluarga Wasinah. (Ist)

JALANUTAMA.COM, LAMPUNG TIMUR – Langit malam Lampung menyimpan duka yang tumpah dari timur jauh—dari negeri sakura yang berjarak ribuan mil dari kampung bernama Hargomulyo.

Bumi yang semula diam, tiba-tiba bergetar lirih oleh denting kesedihan: seorang perempuan Lampung Timur, Wasinah, tak lagi kembali dalam napas, tapi dalam peti.

Namanya bukan nama yang dicetak tebal di surat kabar nasional, bukan pula tokoh yang dikenang dalam buku sejarah.

Namun di balik kesederhanaan itulah, justru tersimpan kemuliaan yang melampaui pangkat dan gelar.

Wasinah, pahlawan devisa, perempuan yang mengayuh hidup di negeri orang demi menjahit harapan untuk keluarganya.

Pada Sabtu, 24 April 2025, pukul 01.50 waktu Jepang, takdir merengkuhnya dengan tenang dalam pelukan sunyi: gagal jantung iskemik akut.

Pada Senin malam, 26 Mei 2025, pukul 19.00 WIB, pesawat Garuda Indonesia GA401 mendarat di Bandar Udara Radin Inten II.

Bukan sekadar penerbangan biasa, melainkan perjalanan akhir seorang perempuan yang pernah menantang batas hidup dengan keberanian.

Di antara kepulan asap kendaraan dan cahaya lampu bandara, sebuah peti diturunkan dari lambung logam pesawat. Udara seketika menyaru jadi dinding beku. Tangis pecah. Haru memagut tiap pasang mata.

Bupati Lampung Timur, Hj Ela Siti Nuryamah, hadir bukan sebagai pejabat dengan protokol dan jas resmi, melainkan sebagai ibu—sebagai perempuan yang mengerti sakit kehilangan.

Langkahnya pelan namun penuh empati, menyusuri jalan menuju ambulans yang menanti jenazah.

Ia memeluk keluarga almarhumah, mata berkaca, suara parau tertahan. Saat itulah, kehadiran seorang pemimpin bukan sekadar jabatan, tapi teladan kasih.

“Kami semua merasa sangat kehilangan. Wasinah adalah bagian dari keluarga besar Lampung Timur yang berjuang di luar negeri demi keluarga dan daerah,” ucapnya lirih, seolah hendak memeluk semesta duka dengan tangan kata.

Di Balik Nama dan Napas

Wasinah bukan sekadar nama. Ia lambang semangat perempuan desa yang tak menyerah meski hidup tak selalu bersahabat.

Dari Hargomulyo, Kecamatan Sekampung, Lampung Timur, ia melangkah ke Jepang bukan untuk melancong, melainkan menyulam hidup yang lebih baik.

Dengan visa yang kadaluarsa, status overstayer mengikatnya dalam ketidakpastian. Namun bagi Wasinah, ketidakpastian di negeri asing lebih menjanjikan ketimbang kepastian lapar di kampung halaman.

Di Jepang, ia bekerja dalam diam. Setiap lembar yen yang dikirimkan pulang, adalah potongan waktu, peluh, dan rindu. Tak ada poster wajahnya di balai desa, tak pula piagam penghargaan.

Tapi setiap rupiah yang lahir dari remitansi adalah penggerak ekonomi—bahkan lebih kokoh daripada wacana pembangunan yang kerap menggantung di langit pidato.

PMI seperti Wasinah telah lama disebut sebagai “pahlawan devisa”. Kata-kata itu, meski agung, kerap terdengar seperti retorika kosong saat tubuh-tubuh mereka terkulai lelah, saat hak-hak mereka terabaikan, atau ketika jenazah mereka datang dalam sunyi tanpa pelindung negara.

Namun pada malam itu, setidaknya sejarah mencatat: satu pahlawan pulang dengan penghormatan.

Pemulangan yang Menggetarkan

Bukan hal mudah membawa pulang jenazah dari negeri jauh. Prosesnya melibatkan birokrasi, diplomasi, hingga solidaritas.

KBRI Tokyo, bersama komunitas masyarakat Indonesia di Jepang, turut menggalang dana. Mereka tidak sekadar menjadi perwakilan negara, tetapi juga pelipur duka.

Surat Keterangan Kematian Nomor: 022/Kons/MT/V/2025 menjadi kunci administrasi yang mengantar jenazah melintasi samudra.

Penerbangan GA881 dari Bandara Narita ke Denpasar, lalu dilanjutkan dengan GA401 ke Lampung, menjadi jalur ziarah yang tak pernah dibayangkan Wasinah ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jepang. Ia pergi dengan harapan, kembali dengan kenangan.

Di bandara, pengawalan ketat menyambut peti kayu itu. Tidak ada upacara megah, tetapi setiap helai doa yang dipanjatkan membumbung lebih tinggi dari seremoni mana pun.

Anak-anak Wasinah menatap peti itu dengan mata nanar. Di balik tatapan mereka, mengalir sungai kesedihan yang tak henti.

Suami Wasinah berdiri di sisi peti, menatapnya seolah hendak mengulang semua percakapan terakhir, namun tak satu pun mampu lolos dari kerongkongan.

Pemimpin yang Menjadi Pelindung

Di tengah duka, hadir sosok pemimpin yang tidak hanya datang memberi sambutan. Hj Ela Siti Nuryamah turun tangan langsung, tak hanya untuk protokol, tapi untuk membalut luka.

Ia memberikan instruksi agar keluarga almarhumah mendapatkan pendampingan psikologis.

“Bu Wasinah merupakan pahlawan keluarga, beliau berjuang demi keluarganya. Kami berharap keluarga ikhlas dan sabar atas kepergian ini,” katanya, bukan sebagai bupati semata, tapi sebagai sesama perempuan yang paham arti kehilangan.

Ela bukan tokoh asing bagi masyarakat Lampung Timur. Ia dikenal murah senyum, tegas namun penuh kelembutan.

Dalam momen berkabung itu, ia menjelma sebagai lengan negara yang menjangkau warganya, tak membiarkan mereka jatuh sendirian di dasar duka.

Perempuan dan Perjuangan yang Sunyi

Wasinah adalah potret dari ribuan, bahkan jutaan perempuan Indonesia yang meninggalkan tanah kelahiran demi mengubah nasib.

Mereka tidak membawa senjata, tidak menduduki jabatan, tetapi mereka pejuang.

Di negeri asing, mereka menghadapi diskriminasi, kelelahan, kesepian, bahkan ketakutan.

Namun mereka tetap bertahan. Karena di kampung halaman, ada anak-anak yang perlu disekolahkan, ada rumah yang harus direnovasi, ada harapan yang tak boleh padam.

Pekerja migran adalah jembatan antara negara dan keluarga. Tanpa mereka, banyak dapur akan padam, banyak anak akan putus sekolah.

Namun ironisnya, perlindungan terhadap mereka masih sering terabaikan. Kematian Wasinah menyadarkan kita bahwa nyawa seorang pekerja migran terlalu berharga untuk dibiarkan hilang begitu saja.

Pemakaman di Tanah Air

Selasa pagi, 27 Mei 2025, kampung Hargomulyo berubah menjadi lautan manusia.

Warga berdatangan, bukan hanya karena ingin melihat, tetapi karena ingin memberi penghormatan terakhir.

Di bawah langit yang muram, jenazah Wasinah dimakamkan. Tanah merah menutup peti, doa-doa mengiringi. Di sana, tubuhnya menyatu dengan bumi yang pernah ia tinggalkan demi memberi makan.

Bagi sebagian orang, kematian adalah akhir. Tapi bagi Wasinah, justru menjadi permulaan: ia menjadi simbol.

Bukan hanya simbol pengorbanan, tetapi juga lambang keberanian perempuan Indonesia yang menolak tunduk pada kemiskinan. Ia membuktikan bahwa cinta bisa melintasi benua, bahkan mengalahkan rasa takut.

Epilog: Menyulam Kesadaran Baru

Kisah Wasinah semestinya tidak berakhir di liang lahat. Ia seharusnya menjadi awal dari kesadaran kolektif: bahwa para pekerja migran butuh perlindungan menyeluruh, bukan sekadar kata pujian.

Negara harus hadir sejak awal, bukan hanya saat akhir. Di tengah gemuruh politik dan kebijakan, suara mereka kerap tenggelam. Namun dari Hargomulyo, suara sunyi itu kini bergema.

Wasinah mengajarkan bahwa hidup, betapapun beratnya, selalu layak diperjuangkan.

Dalam tubuh mungilnya, tersimpan kekuatan ribuan kata “tidak menyerah”. Ia bukan siapa-siapa di mata dunia, tapi bagi keluarganya, bagi negerinya—ia adalah segalanya.

Bukan hanya jenazah yang pulang, tetapi juga pesan. Sebuah pesan yang tak boleh diabaikan: bahwa di balik tiap lembar devisa, ada cerita cinta, ada keringat, ada air mata—dan kadang, ada nyawa. (herlambanqs)

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Pengesahan SEMA DEMA U Cacat Hukum: Alumni Soroti Kelalaian dan Kecurangan di Atas Aturan yang dibuat Sendiri

18 May 2026 - 18:30 WIB

Demokrasi Kampus Dipertanyakan, Aliansi Mahasiswa UIN JUSILA Soroti Masuknya Polisi dalam Forum Pemilihan

12 May 2026 - 23:32 WIB

Transparansi yang Dipertanyakan di Universitas Muhammadiyah Metro: Rangkap Jabatan Dosen dan Perekrutan Pegawai Kampus

12 May 2026 - 12:22 WIB

PKIMB dan Yayasan Amirul Ummah Salurkan 820 Al-Qur’an untuk Santri di Lampung

12 May 2026 - 11:23 WIB

Kacamata Pengamat: Antara Isu Kerakyatan dan Melemahnya Kontrol Sosial

30 April 2026 - 15:53 WIB

Trending on Kolom